Selasa, 08 Januari 2013

Aksara pallawa

Aksara Pallawa atau kadangkala ditulis sebagai Pallava adalah sebuah aksara yang berasal dari India bagian selatan. Aksara ini sangat penting untuk sejarah di Indonesia karena aksara ini merupakan aksara dari mana aksara-aksara Nusantara diturunkan.
Di Nusantara bukti terawal adalah Prasasti Mulawarman di Kutai, Kalimantan Timur yang berasal dari abad ke-5 Masehi. Bukti tulisan terawal yang ada di Jawa Barat dan sekaligus pulau Jawa, yaitu Prasasti Tarumanagara yang berasal dari pertengahan abad ke-5, juga ditulis menggunakan aksara Pallawa.
Nama aksara ini berasal dari Dinasti Pallava yang pernah berkuasa di selatan India antara abad ke-4 sampai abad ke-9 Masehi. Dinasti Pallava adalah sebuah dinasti yang memeluk aliran Jainisme.


Aksara sunda kuno

Aksara Sunda Kuno merupakan aksara yang berkembang di daerah Jawa Barat pada Abad XIV-XVIII yang pada awalnya digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda Kuna. Aksara Sunda Kuna merupakan perkembangan dari Aksara Pallawa yang mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah lontar pada Abad XVI.
Penggunaan Aksara Sunda Kuno dalam bentuk paling awal antara lain dijumpai pada prasasti-prsasasti yang terdapat di Astanagede, Kecamatan Kawali, Kabupaten Ciamis, dan Prasasti Kebantenan yang terdapat di Kabupaten Bekasi.
Edi S. Ekajati mengungkapkan bahwa keberadaan Aksara Sunda Kuna sudah begitu lama tergeser karena adanya ekspansi Kerajaan Mataram Islam ke wilayah Priangan kecuali Cirebon dan Banten. Pada waktu itu para menak Sunda lebih banyak menjadikan budaya Jawa sebagai anutan dan tipe ideal. Akibatnya, kebudayaan Sunda tergeser oleh kebudayaan Jawa. Bahkan banyak para penulis dan budayawan Sunda yang memakai tulisan dan ikon-ikon Jawa.
Bahkan VOC pun membuat surat keputusan, bahwa aksara resmi di daerah Jawa Barat hanya meliputi Aksara Latin, Aksara Arab Gundul (Pegon) dan Aksara Jawa (Cacarakan). Keputusan itu ditetapkan pada tanggal 3 November 1705. Keputusan itu pun didukung para penguasa Cirebon yang menerbitkan surat keputusan serupa pada tanggal 9 Februari 1706. Sejak saat itu Aksara Sunda Kuno terlupakan selama berabad-abad. Masyarakat Sunda tidak lagi mengenal aksaranya. Kalaupun masih diajarkan di sekolah sampai penghujung tahun 1950-an, rupanya salah kaprah. Pasalnya, yang dipelajari saat itu bukanlah Aksara Sunda Kuna, melainkan Aksara Jawa yang diadopsi dari Mataram dan disebut dengan Cacarakan.

Pada awal tahun 2000-an pada umumnya masyarakat Jawa Barat hanya mengenal adanya satu jenis aksara daerah Jawa Barat yang disebut sebagai Aksara Sunda. Namun demikian perlu diperhatikan bahwa setidaknya ada empat jenis aksara yang menyandang nama Aksara Sunda, yaitu Aksara Sunda Kuna, Aksara Sunda Cacarakan, Aksara Sunda Pegon, dan Aksara Sunda Baku. Dari empat jenis Aksara Sunda ini, Aksara Sunda Kuna dan Aksara Sunda Baku dapat disebut serupa tapi tak sama. Aksara Sunda Baku merupakan modifikasi Aksara Sunda Kuna yang telah disesuaikan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menuliskan Bahasa Sunda kontemporer. Modifikasi tersebut meliputi penambahan huruf (misalnya huruf va dan fa), pengurangan huruf (misalnya huruf re pepet dan le pepet), dan perubahan bentuk huruf (misalnya huruf na dan ma).



Definisi "aksara"


1 sistem tanda grafis yg digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran;
 2 jenis sistem tanda grafis tertentu, msl aksara Pallawa, aksara Inka; 3 huruf;
-- Arab aksara yg mula-mula digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari Aramea, ditulis dr kanan ke kiri; -- Aramea aksara yg dipakai dl bahasa Aramea (di daerah sekitar Siria sekarang dan Mesopotamia) sejak sekitar abad ke-10 SM; -- Brahmi aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa India Kuno, diturunkan dr aksara Aramea dan bersifat setengah alfabetis, mula-mula dituliskan dr kanan ke kiri kemudian dr kiri ke kanan; -- Dewanagari aksara India yg dipakai untuk menuliskan bahasa Sanskerta yg tumbuh pd abad ke-7—9 M, masih digunakan hingga saat ini, dan menurunkan aksara yg dipakai di Nepal dan Bangladesh; -- fonemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang satu fonem (bunyi yg membedakan arti) secara konsisten; -- fonetis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk tiap varian fonem atau bunyi; -- Grantha aksara Pallawa; -- hieroglif aksara yg dipakai oleh para pendeta Mesir Kuno dan bersifat ideografis; -- Jawa aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, berjumlah dua puluh huruf, bermula dng ha dan berakhir dng nga; -- Jawi aksara Arab yg dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu; -- Kawi aksara yg dipakai pd prasasti di Indonesia sejak pertengahan abad ke-8 M yg diturunkan dr aksara Pallawa; -- Latin aksara yg bersifat alfabetis, dipakai mula-mula untuk bahasa Latin sekitar abad ke-7 SM, kemudian untuk bahasa di Eropa Barat dan bahasa lain di dunia; -- morfemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk menggambarkan satu morfem, msl aksara Cina; -- Pallawa aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa di India Selatan dan diturunkan dr aksara Brahmi (disebut juga aksara Grantha); -- pegon lihat pegon; -- silabis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk satu suku kata; -- Sunda aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda, huruf bermula dng ha berakhir dng nga (bentuk dan kaidah penulisannya sama dng aksara Jawa);
ber·ak·sa·ra v 1 memiliki aksara; 2 ki mampu membaca dan menulis;
ke·ber·ak·sa·ra·an n kemampuan membaca dan menulis: usaha itu dapat dianggap sbg langkah awal dl proses peralihan dr ~ bahasa ibu ke ~ bahasa nasional


1.      1 sistem tanda grafis yg digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran; 2 jenis sistem tanda grafis tertentu, msl aksara Pallawa, aksara Inka; 3 huruf;
-- Arab aksara yg mula-mula digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari Aramea, ditulis dr kanan ke kiri; -- Aramea aksara yg dipakai dl bahasa Aramea (di daerah sekitar Siria sekarang dan Mesopotamia) sejak sekitar abad ke-10 SM; -- Brahmi aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa India Kuno, diturunkan dr aksara Aramea dan bersifat setengah alfabetis, mula-mula dituliskan dr kanan ke kiri kemudian dr kiri ke kanan; -- Dewanagari aksara India yg dipakai untuk menuliskan bahasa Sanskerta yg tumbuh pd abad ke-7—9 M, masih digunakan hingga saat ini, dan menurunkan aksara yg dipakai di Nepal dan Bangladesh; -- fonemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang satu fonem (bunyi yg membedakan arti) secara konsisten; -- fonetis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk tiap varian fonem atau bunyi; -- Grantha aksara Pallawa; -- hieroglif aksara yg dipakai oleh para pendeta Mesir Kuno dan bersifat ideografis; -- Jawa aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, berjumlah dua puluh huruf, bermula dng ha dan berakhir dng nga; -- Jawi aksara Arab yg dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu; -- Kawi aksara yg dipakai pd prasasti di Indonesia sejak pertengahan abad ke-8 M yg diturunkan dr aksara Pallawa; -- Latin aksara yg bersifat alfabetis, dipakai mula-mula untuk bahasa Latin sekitar abad ke-7 SM, kemudian untuk bahasa di Eropa Barat dan bahasa lain di dunia; -- morfemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk menggambarkan satu morfem, msl aksara Cina; -- Pallawa aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa di India Selatan dan diturunkan dr aksara Brahmi (disebut juga aksara Grantha); -- pegon lihat pegon; -- silabis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk satu suku kata; -- Sunda aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda, huruf bermula dng ha berakhir dng nga (bentuk dan kaidah penulisannya sama dng aksara Jawa);
ber·ak·sa·ra v 1 memiliki aksara; 2 ki mampu membaca dan menulis;
ke·ber·ak·sa·ra·an n kemampuan membaca dan menulis: usaha itu dapat dianggap sbg langkah awal dl proses peralihan dr ~ bahasa ibu ke ~ bahasa nasional


1.      1 sistem tanda grafis yg digunakan manusia untuk berkomunikasi dan sedikit banyaknya mewakili ujaran; 2 jenis sistem tanda grafis tertentu, msl aksara Pallawa, aksara Inka; 3 huruf;
-- Arab aksara yg mula-mula digunakan untuk menuliskan bahasa Arab, diturunkan dari Aramea, ditulis dr kanan ke kiri; -- Aramea aksara yg dipakai dl bahasa Aramea (di daerah sekitar Siria sekarang dan Mesopotamia) sejak sekitar abad ke-10 SM; -- Brahmi aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa India Kuno, diturunkan dr aksara Aramea dan bersifat setengah alfabetis, mula-mula dituliskan dr kanan ke kiri kemudian dr kiri ke kanan; -- Dewanagari aksara India yg dipakai untuk menuliskan bahasa Sanskerta yg tumbuh pd abad ke-7—9 M, masih digunakan hingga saat ini, dan menurunkan aksara yg dipakai di Nepal dan Bangladesh; -- fonemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang satu fonem (bunyi yg membedakan arti) secara konsisten; -- fonetis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk tiap varian fonem atau bunyi; -- Grantha aksara Pallawa; -- hieroglif aksara yg dipakai oleh para pendeta Mesir Kuno dan bersifat ideografis; -- Jawa aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Jawa, berjumlah dua puluh huruf, bermula dng ha dan berakhir dng nga; -- Jawi aksara Arab yg dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu; -- Kawi aksara yg dipakai pd prasasti di Indonesia sejak pertengahan abad ke-8 M yg diturunkan dr aksara Pallawa; -- Latin aksara yg bersifat alfabetis, dipakai mula-mula untuk bahasa Latin sekitar abad ke-7 SM, kemudian untuk bahasa di Eropa Barat dan bahasa lain di dunia; -- morfemis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk menggambarkan satu morfem, msl aksara Cina; -- Pallawa aksara yg dipakai untuk menuliskan bahasa di India Selatan dan diturunkan dr aksara Brahmi (disebut juga aksara Grantha); -- pegon lihat pegon; -- silabis sistem tulisan yg menggunakan satu lambang untuk satu suku kata; -- Sunda aksara yg digunakan untuk menuliskan bahasa Sunda, huruf bermula dng ha berakhir dng nga (bentuk dan kaidah penulisannya sama dng aksara Jawa);
ber·ak·sa·ra v 1 memiliki aksara; 2 ki mampu membaca dan menulis;
ke·ber·ak·sa·ra·an n kemampuan membaca dan menulis: usaha itu dapat dianggap sbg langkah awal dl proses peralihan dr ~ bahasa ibu ke ~ bahasa nasional

Huruf "aksara" di indonesia


Sejarah mencatat bahwa aksara tertua di Nusantara (Asia Tenggara umumnya) disebarluaskan seiring dengan menyebarnya agama Buddha, jenis aksara yang semula dipergunakan untuk menulis ajaran. mantra-mantra suci atau teks-teks dengan jenis aksara yang dipakainya disebut Sidhhamatrika, disingkat Siddham. Tetapi sarjana Belanda lebih menyukai istilah Prenagari sebelum hadirnya aksara Arab dan Latin sekarang, tulisan yang lazim dipergunakan di kawasan Asia  Tenggara (kecuali di Vietnam dan sebagian kalangan penduduk Cina Selatan) diduga sebagian besar dari pengaruh India. Begitu pun halnya yang terjadi di Nusantara para sarjana (pribumi dan asing) hampir selalu mengajukan pendapat senad bahwa aksara di Nusantara hadir sejalan dengan berkembangnya unsur (Hindu-Buda) dari India yang datang dan menetap, melangsungkan kehidupannya dengan menikahi penduduk setempat. Maka sangat wajar, langsung atau tidak langsung disamping mengenalkan budaya dari negeri asalnya sambil mempelajari budaya setempat di lingkungan pemukiman baru, salah satu implikasinya adalah bentuk aksara (de Casparis 1975).

aksara rencong adalah istilah yang mula-mula digunakan oleh para peneliti belanda untuk merujuk pada        aksara surat ulu yang digunakan di kawasan ulu (pegunungan) sumatra, khususnya di kerinci, bengkulu, sumatra selatan, dan lampung. Bersama dengan aksara-aksara daerah lain di sumatra, surat ulu merupakan turunan dari aksara pallawa. Pada masa lalu surat ulu dituliskan pada bambu, tanduk kerbau, dan kulit kayu.
Aksara ulu yang kadang-kadang juga dinamakan aksara kaganga berdasarkan tiga huruf pertama dalam urutan abjadnya, masih serumpun dengan surat batak (aksara batak).
2. AKSARA BATAK 
TRANSLATOR HURUF ROMAWI-BATAK
sistem tradisi penulisan didalam bahasa batak toba diduga telah ada sejak abad ke-13,dengan aksara yang mungkin berasal dari aksara jawa kuna, melalui aksara sumatera kuna. Aksara ini bersifat silabis artinya tanda untuk menggambarkan satu suku kata/silaba atau silabis. Jumlah lambang /tanda itu sebanyak 19 buah huruf yang disebut juga induk huruf dan ditambah 7 jenis anak huruf.
Pada dasarnya huruf /ka/ tidak pernah ditemukan dalam bahasa batak toba, misalnya orang batak toba pada mulanya bila menyebutkan kopi adalah hopi, dan hoda [bukan kuda]. Tetapi sekarang ini orang batak tidak lagi menyebutnya hopi melainkan kopi, itulah perubahan pelafalan dalam bahasa batak toba.
3. AKSARA LAMPUNG
aksara lampung yang disebut dengan had lampung adalah bentuk tulisan yang memiliki hubungan dengan aksara pallawa dari india selatan. Macam tulisannya fonetik berjenis suku kata yang merupakan huruf hidup seperti dalam huruf arab dengan menggunakan tanda tanda fathah di baris atas dan tanda tanda kasrah di baris bawah tapi tidak menggunakan tanda dammah di baris depan melainkan menggunakan tanda di belakang, masing-masing tanda mempunyai nama tersendiri.
4. AKSARA SUNDA
aksara sunda kuna merupakan aksara yang berkembang di daerah jawa barat pada abad xiv-xviii yang pada awalnya digunakan untuk menuliskan bahasa sunda kuna. Aksara sunda kuna merupakan perkembangan dari aksara pallawa yang mencapai taraf modifikasi bentuk khasnya sebagaimana yang digunakan naskah-naskah lontar pada abad xvi.
5. AKSARA JAWA
hanacaraka atau dikenal dengan nama carakan atau cacarakan (bahasa sunda) adalah aksara turunan aksara brahmi yang digunakan atau pernah digunakan untuk penulisan naskah-naskah berbahasa jawa, bahasa madura, bahasa sunda, bahasa bali, dan bahasa sasak.
Aksara jawa modern adalah modifikasi dari aksara kawi dan merupakan abugida. Hal ini bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili dua buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Sebagai contoh aksara ha yang mewakili dua huruf yakni h dan a, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “hari”. Aksara na yang mewakili dua huruf, yakni n dan a, dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata “nabi”. Dengan demikian, terdapat penyingkatan cacah huruf dalam suatu penulisan kata apabila dibandingkan dengan penulisan aksara latin.
6. AKSARA BALI
aksara bali adalah huruf tradisional masyarakat bali dan berkembang di bali. Aksara bali merupakan suatu abugida yang berpangkal pada huruf pallawa. Aksara ini mirip dengan aksara jawa. Perbedaannya terletak pada lekukan bentuk huruf.
7. AKSARA BUGIS/LONTARA
sejarahnya lontara mempunyai dua pengertian dalam bahasa bugis,yakni 1).lontara sebagai sejarah dan ilmu pengetahuan,dan 2).lontara sebagai tulisan. Kata lontara berasal dari bahasa bugis yang berarti daun lontar karena awalnya ditulis dalam daun lontar. Daun lontar ini memiliki lebar kira-kira 1 cm sedangkan panjangnya disesuaikan dengan panjangnya tulisan. Tiap – tiap daun lontar disambungkan dengan menggunakan benang lalu digulung pada jepitan kayu, yang bentuknya mirip gulungan pita kaset. Cara membacanya dari kiri ke kanan.aksara lontara biasa juga disebut dengan sulapaq eppaq.

Sejarah "aksara"


Ada pendapat sebelum hadir abjad Arab dan Latin sekarang, tulisan yang lazim dipergunakan di kawasan Asia Tenggara (kecuali di Vietnam dan sebagian kalangan penduduk Cina Selatan) diduga sebagian besar dari pengaruh India. Begitu pun halnya yang terjadi di Nusantara. Para sarjana (pribumi dan asing) hampir selalu mengajukan pendapat senada bahwa aksara di Nusantara hadir sejalan dengan berkembangnya unsur (Hindu-Buddha) dari India yang datang dan menetap, melangsungkan kehidupannya dengan menikahi penduduk setempat. Maka sangat wajar, langsung atau tidak langsung disamping mengenalkan budaya dari negeri asalnya sambil mempelajari budaya setempat di lingkungan pemukiman baru, salah satu implikasinya adalah bentuk aksara (de Casparis:1975).
Namun sejauh fakta yang ada, pendapat itu tidak disertai penjelasan tuntas hingga pada suatu waktu seorang ahli epigrafi yang berkebangsaan Perancis bernama Louis Charles Damais (l951--55) yang menyatakan bahwa hipotesis para ahli tersebut belum benar-benar menegaskan dari mana dan bagaimana awal kehadiran serta mengalirnya arus kebudayaan India ke Nusantara kecuali diperkirakan tidak hanya berasal dari satu tempat saja, tetapi juga dari berbagai tempat lainnya. Walaupun tidak dipungkiri bahwa aksara-aksara di Nusantara memang menampakkan aliran India Selatan atau aliran India Utara, namun juga cukup rumit dan sulit ditentukan darimana kepastian awalnya sebab meskipun ada pengaruh India, tetapi kebudayaan India tidaklah berperan sepenuhnya terhadap lahirnya aksara di Nusantara khususnya suku bangsa yang menghasilkan sumber tertulis dengan mempergunakan aksara-aksara nasional atau aksara daerah yang tergolong kuno itu.
Ada asumsi bahwa kebudayaan India datang ke Nusantara semata karena peran cendekiawan Nusantara sendiri yang telah turut ambil bagian ke kancah pergaulan politik internasional, tetapi tidak berarti bahwa di kala itu bangsa Nusantara belum mengenal aksara sebagai alat melakukan interaksi sosial dengan bangsa-bangsa lain. Wujud ataupun bentuk aksara yang berperan pada periode itu pun sesungguh-sungguhnya merupakan hasil daya cipta cendekiawan lokal yang telah meramu secara selektif unsur-unsur asing dari berbagai aliran yang pada klimaksnya mencapai kesepakatan gaya jenis dan bentuk aksara sesuai kondisi wilayah budaya. Saat berlangsungnya proses inovasi, masyarakat Nusantara telah mencapai kondisi siap mental, karena itu tatkala inovasi asing (luar) tiba, khususnya dari India, masyarakat Nusantara segera dapat mencerna dan menyesuaikan diri tentu dengan melalui pengetahuan dan pengalaman kebudayaan setempat (Damais 1952; 1955).
Sejarah mencatat bahwa aksara tertua di Nusantara (Asia Tenggara umumnya) disebarluaskan seiring dengan menyebarnya agama Buddha. Jenis aksara yang semula dipergunakan untuk menulis ajaran. mantra-mantra suci atau teks-teks dengan jenis aksara yang dipakainya disebut Sidhhamatrika, disingkat Siddham. Tetapi sarjana Belanda lebih menyukai istilah Prenagari (Damais 1995; Sedyawati 1978). Jenis aksara inilah yang kemudian berkembang di Asia Tenggara walaupun hanya terbatas atau terpatri, untuk menulis teks-teks keagamaan pada media tablet, materai atau stupika yang dibuat dari tanah liat (bakar atau terakota) atau dijemur dan dikeringkan matahari. Objek tekstual jenis ini hampir dipastikan tidak atau jarang disertai unsur pertanggalan, karenanya sulit ditentukan periodenya secara tepat. Namun melalui analisis palaeografis yakni perbandingan kemiripan tipe, gaya, bentuk aksara dari zaman ke zaman, maka khusus aksara pada tablet, meterai atau stupika yang ditemukan di Asia Tenggara diperkirakan dari sekitar abad pertama sampai ketiga Masehi. Di Nusantara benda-benda seperti ini ditemukan di Sumatra, Jawa dan Bali dengan menggunakan bahasa Sanskerta.
Aksara yang kemudian lebih populer di Nusantara adalah aksara dari (dinasti) Pallava (India Selatan) selanjutnya disebut aksara Pallawa (saja), juga memiliki kecenderungan tidak menyertakan unsur pertanggalan, dijumpai pada prasasti tujuh Yupa (tugu peringatan kurban) kerajaan Kutai (Kalimantan timur) yang diperkirakan dari tahun 400 Masehi dan sejumlah prasasti dari kerajaan Tarumanagara (Jawa Barat) tahun 450 Masehi.
Kedua kerajaan yang cukup jauh letaknya sama-sama mengggunakan aksara Pallawa-Grantha dan bahasa Sanskerta dengan gaya khas inovasinya. Prasasti-prasasti masa Tarumanagara dipahatkan pada batu alam. Khusus prasasti Ciaruteun dan Muara Cianten (Kampung-muara), di tepi sungai Cisadane dan Cibungbulang (Bogor), Jawa Barat, disusun dan ditata dengan metrum (sloka) Sanskerta; ada juga yang berpahatkan pilin, umbi-umbian dan sulur-suluran. Beberapa sarjana menyebut pahatan pilin, umbi, dan sulur-suluran itu sebagai bentuk aksara khusus yang disebut kru-letters, conch-shell-script atau aksara sangkha. Sejauh mana kebenarannya, yang jelas pilin—pilin gandha ataupun sulur-suluran—merupakan citra gaya seni geometris yang paling tua dikenal manusia di bumi Nusantara, sebelum dikenal aksara (Djafar 1978).
Ragam hias yang kemudian lebih banyak ditemukan sebagai karya asli pribumi khususnya berkembang di beberapa daerah di Sulawesi. Karakter-karakter yang memiliki keistimewaan sebagai hasil daya cipta setempat yang telah sangat tua yang dikembangkan di alam dan lingkungan kebudayaan yang didasari kemapanan kreativitas dan berkembang sesuai kondisinya. Ciri perkembangan inilah yang kemudian menjadi rumit sebab setiap individu atau kelompok masyarakat dari suatu lingkungan kebudayaan memiliki konsep-konsep untuk mengembangkan gaya dan bentuk aksara selanjutnya melahirkan tipe-tipe khas pendukung budaya.